MENUJU MERDEKA 100%
-
MENUJU MERDEKA 100%
- HARGA Rp.-
- KONDISI BARU BELI SEKARANG!
Sinopsis
Suatu
malam pada sebuah pertemuan yang dihadiri Bung Karno, Bung Hatta, Bung
Sjahrir, dan K.H. Agus Salim—Tan Malaka yang datang tanpa diundang
tiba-tiba berkata lantang: “Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian
kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan? Aku
merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan
bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak
menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno
sahabatku… Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka
haruslah 100 persen...!”
ㅤㅤ
Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Padahal, Prof. Muhammad Yamin menyebutnya sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Sedang Jenderal A.H. Nasution mengatakan, “… nama Tan Malaka juga harus tercatat sebagai tokoh militer Indonesia untuk selama-lamanya.” Tan Malaka adalah salah seorang pemikir brilian yang bercita-cita mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia.
ㅤㅤ
Buku ini merupakan kumpulan karya penting Tan Malaka, yang terdiri dari: Aksi Massa, Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, Muslihat, dan Gerpolek, sekaligus menjadi pernyataan sikapnya tentang politik dan ekonomi yang bebas dan merdeka, yang dapat menggugah kesadaran kita akan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu Merdeka 100%!
Selamat Membaca dan Merdekalah...
ㅤㅤ
Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Padahal, Prof. Muhammad Yamin menyebutnya sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Sedang Jenderal A.H. Nasution mengatakan, “… nama Tan Malaka juga harus tercatat sebagai tokoh militer Indonesia untuk selama-lamanya.” Tan Malaka adalah salah seorang pemikir brilian yang bercita-cita mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia.
ㅤㅤ
Buku ini merupakan kumpulan karya penting Tan Malaka, yang terdiri dari: Aksi Massa, Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, Muslihat, dan Gerpolek, sekaligus menjadi pernyataan sikapnya tentang politik dan ekonomi yang bebas dan merdeka, yang dapat menggugah kesadaran kita akan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu Merdeka 100%!
Selamat Membaca dan Merdekalah...
Memoar Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno
-
Oei Tjoe Tat
- HARGA Rp. 79.000
- KONDISI BARU BELI SEKARANG!
Sinopsis
Kepribadian Oei Tjoe Tat
mencerminkan kekuatan idealisme dalam mengatur kehidupan seseorang.
Idealisme Oei Tjoe Tat terutama bertumpu pada keinginannya untuk melihat
Indonesia yang mampu menampung semua golongan yang tinggal dalam
kawasan teritorialnya, dengan memberikan perlakuan yang adil dan peluang
yang sama bagi semua varga negara untuk mewujudkan cita-cita mereka.
Dengan demikian, Indonesia yang diimpikannya adalah Indonesia yang
pluralistik, yang tidak membeda-bedakan warga negaranya berdasarkan
asal-usul, agama, rasial, budaya, bahasa, dan pandangan politik mereka.
—K.H. Abdurachman Wahid
Dari
memoar pejuang nasionalis keturunan Tionghoa ini kita dapat merenung
dan sadar, betapa jalan perjuangan ke arah kemerdekaan sejati yang
berkemanusiaan, adil dan beradab memanglah sangatlah sukar.
Kadang-kadang catatan-catatan Oei Tjoe Tat menumbuhkan rasa prihatin,
betapa panjang dan penuh ranjau jalan pendewasaan sejati suatu bangsa
itu. Dan bahwa kemerdekaan nasional yang sudah dirintis oleh para
generasi pendahulu harus dimahkotai oleh perjuangan demi kemerdekaan
sejati manusia-manusia Indonesia. —Romo Mangunwiiaya
PETANI, PRIAYI, DAN MITOS POLITIK
-
PLATO REPUBLIK
- HARGA Rp. -
- KONDISI BARU BELI SEKARANG!
Sinopsis
Dengan
memahami sejarah, kita menjadi memiliki alternatif untuk memahami
gejala aktual, sekaligus alternatif untuk menentukan pilihan atau
jawaban atas tantangan yang muncul secara aktual.
Apa
yang ditulis Dr. Kuntowijoyo dalam buku ini mengenai radikalisasi
petani di tahun 1960-an, dunia priayi di awal abad kedua puluh, dan
mistisisme serta mitos-mitos politik di tahun 1970-an di daerah pantai
utara Jawa, dll.mengandung kekuatan seperti itu.
DI BAWAH LENTERA MERAH SOE HOK GIE
-
DI BAWAH LENTERA MERAH SOE HOK GIE
- HARGA Rp. -
- KONDISI BARU BELI SEKARANG!
Sinopsis
Jika bangsa Indonesia setiap tahun memperingati tanggal 20 mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional, maka seyogyanya juga tertuju kepada momentum sejarah seperti yang dilukiskan Soe Hok Gie “Di Bawah Lentera Merah” ini. Persepsi yang menyederhanakan kebangkitan nasional hanya dengan Budi Utomo, terang terlalu sempit, tidak demokratis, dan sesungguhnya sudah lama tidak masuk akal. Begitupun sebaliknya, misalnya, hanya menomorsatukan Islam atau tokoh-tokohnya sebagaimana yang telah diupayakan beberapa orang, akan membawa kita juga ke jurang persepsi yang tidak demokratis. Adapun alasannya, sebagian akan Anda pahami ketika membaca karya ringkas ini.
Generasi baru bangsa ini sudah sepantasnya dapat menggunakan akal dan citarasanya sekreatif mungkin, agar mereka mampu mengemban tugas sejarahnya dengan suatu peradaban (termasuk peradaban politiknya) yang seimbang bagi zamannya. Maka itu, menakut-nakuti bangsa ini dengan hantu-hantu komunisme, Islam fundamentalis, ateisme, sekularisme, dan militerisme, menjadi bertentangan dengan kepentingan kemajuan bangsa ini. Bangsa yang sebenarnya sudah lama pandai mengambil apa yang ia butuhkan bagi kebangkitan, pertumbuhan, dan kemenangannya. Anda dapat melihat kilasan kearifan bangsa itu pada karya besar ringkas Soe Hok Gie ini. Karya ini bahkan akan mengungkapkan betapa pemberontakan, di sini dan di mana saja, tidak pernah akan terjadi karena satu orang, satu pihak atau satu golongan. (Frantz Fanon Foundation)
Jika bangsa Indonesia setiap tahun memperingati tanggal 20 mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional, maka seyogyanya juga tertuju kepada momentum sejarah seperti yang dilukiskan Soe Hok Gie “Di Bawah Lentera Merah” ini. Persepsi yang menyederhanakan kebangkitan nasional hanya dengan Budi Utomo, terang terlalu sempit, tidak demokratis, dan sesungguhnya sudah lama tidak masuk akal. Begitupun sebaliknya, misalnya, hanya menomorsatukan Islam atau tokoh-tokohnya sebagaimana yang telah diupayakan beberapa orang, akan membawa kita juga ke jurang persepsi yang tidak demokratis. Adapun alasannya, sebagian akan Anda pahami ketika membaca karya ringkas ini.
Generasi baru bangsa ini sudah sepantasnya dapat menggunakan akal dan citarasanya sekreatif mungkin, agar mereka mampu mengemban tugas sejarahnya dengan suatu peradaban (termasuk peradaban politiknya) yang seimbang bagi zamannya. Maka itu, menakut-nakuti bangsa ini dengan hantu-hantu komunisme, Islam fundamentalis, ateisme, sekularisme, dan militerisme, menjadi bertentangan dengan kepentingan kemajuan bangsa ini. Bangsa yang sebenarnya sudah lama pandai mengambil apa yang ia butuhkan bagi kebangkitan, pertumbuhan, dan kemenangannya. Anda dapat melihat kilasan kearifan bangsa itu pada karya besar ringkas Soe Hok Gie ini. Karya ini bahkan akan mengungkapkan betapa pemberontakan, di sini dan di mana saja, tidak pernah akan terjadi karena satu orang, satu pihak atau satu golongan. (Frantz Fanon Foundation)

















































